Merawat Kebinekaan Melalui Dialog: Refleksi Mahasiswa BPI STAI Riyadhul Jannah Subang

Oleh: Mahasiswa BPI STAI Riyadhul Jannah Subang

Lembang, tintagenz.com Indonesia adalah bangsa yang dianugerahi keberagaman luar biasa. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat bukanlah penghalang untuk hidup bersama, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dirawat. Namun, di tengah berbagai tantangan sosial yang muncul akibat perbedaan, diperlukan upaya nyata untuk memperkuat sikap toleransi dan saling memahami antarumat beragama.

Salah satu pengalaman berharga yang kami rasakan adalah ketika mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) STAI Riyadhul Jannah Subang melakukan silaturahmi dan dialog kebangsaan dengan tokoh agama Hindu, Datuk I Made, di Lembang, Jawa Barat. Kegiatan ini memberikan pelajaran penting bahwa toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perjumpaan, komunikasi, dan saling mengenal.

Sering kali prasangka muncul karena kurangnya interaksi. Ketika seseorang hanya mengenal kelompok lain dari cerita atau informasi yang belum tentu benar, maka kesalahpahaman mudah terjadi. Sebaliknya, melalui dialog yang terbuka dan penuh penghormatan, setiap pihak dapat memahami nilai-nilai yang dianut oleh pihak lain tanpa harus kehilangan identitas dan keyakinannya masing-masing.

Pertemuan dengan Datuk I Made menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan tersebut lahir kesempatan untuk belajar tentang pentingnya menghormati sesama manusia. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, kami berdiskusi mengenai kerukunan, kepedulian sosial, gotong royong, serta pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Sebagai mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam, kami meyakini bahwa ajaran Islam mengajarkan nilai kasih sayang, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama. Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menempatkan agama sebagai sumber nilai yang mendorong terciptanya kehidupan yang harmonis, adil, dan damai. Oleh karena itu, membangun hubungan baik dengan pemeluk agama lain merupakan bagian dari ikhtiar menjaga persaudaraan kebangsaan.

Generasi muda memiliki peran strategis dalam merawat kebinekaan. Di era digital saat ini, arus informasi yang begitu cepat sering kali menghadirkan narasi yang memecah belah masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu menjadi agen perdamaian yang mampu menyebarkan pesan-pesan persatuan, mengedepankan dialog, dan menolak segala bentuk intoleransi.

Kegiatan silaturahmi lintas agama yang kami lakukan menjadi bukti bahwa kerukunan dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana, yaitu saling berkunjung, berdialog, dan menghargai satu sama lain. Dari kegiatan tersebut, kami belajar bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan fondasi yang memperkuat bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kerukunan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi dibangun melalui kesadaran, komitmen, dan tindakan nyata seluruh elemen masyarakat. Melalui dialog dan silaturahmi, kita dapat memperkuat persaudaraan, merawat kebinekaan, dan bersama-sama menjaga keutuhan Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.

Tinggalkan komentar