Memburu Senja Menemukan Makna

Sebut saja namaku Enjoy Ajja, Di usia 34 tahun aku memutuskan kembali menghidupkan hobi lama yang hampir tujuh tahun kutinggalkan. Berbekal semangat yang menggebu, kupersiapkan sepeda, helm, sepatu, sebotol air minum, dan aplikasi Strava. Dalam pikiranku, sore itu hanya akan menjadi gowes santai memburu senja.

Ternyata Allah menyiapkan pelajaran yang jauh lebih berharga.

Baru 3 kilometer, tanjakan demi tanjakan menyambut tanpa ampun. Nafasku tersengal. Jantung berdetak begitu keras. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. Kepala berputar hingga aku memilih berhenti di tepi jalan, tepat di hadapan hamparan sawah yang diselimuti cahaya senja.

Saat membuka Strava, tertulis 3,00 KM.

Aku hanya bisa tersenyum getir.

“Baru tiga kilometer… tapi rasanya seperti sudah menaklukkan gunung.”

Haus yang luar biasa memaksaku meneguk air. Namun beberapa saat kemudian, tubuhku mulai kehilangan tenaga. Kepala semakin pening. Aku bahkan sempat merebahkan badan di pinggir jalan.

Di saat itulah satu kesadaran menghampiri.

Begitu rapuhnya manusia.

Baru diuji dengan beberapa kilometer tanjakan saja, tubuh ini hampir menyerah. Lalu apa yang pantas untuk disombongkan?

Aku memperbanyak istighfar, mengatur napas, lalu menatap langit senja yang perlahan berubah warna.

Subhanallah…

Di tengah rasa lelah, Allah masih memberiku kesempatan menikmati lukisan-Nya yang begitu indah. Hamparan sawah, angin yang berembus pelan, cahaya mentari yang mulai tenggelam semuanya seakan mengingatkanku bahwa hidup ini hanyalah perjalanan yang suatu saat akan berakhir.

Aku pun teringat kematian.

Bukankah setiap tarikan napas adalah nikmat yang tak ternilai? Bukankah kesehatan yang sering kita anggap biasa adalah karunia yang luar biasa?

Setelah kondisi membaik, kupasang kembali helmku. Aku tidak lagi mengejar kecepatan. Aku hanya ingin menikmati setiap kayuhan, setiap hembusan angin, dan setiap detik kehidupan yang Allah masih titipkan.

Tanpa terasa, roda itu akhirnya berhenti di depan rumah.

Kubuka kembali Strava.

📍 Jarak tempuh: 21,87 KM
⏱️ Waktu tempuh: 26 menit 15 detik.

Aku tersenyum.

Bukan karena berhasil menyelesaikan hampir 22 kilometer.

Tetapi karena hari itu Allah mengajarkanku satu pelajaran yang tak akan kulupakan.

Tanjakan kehidupan memang melelahkan. Kadang membuat kita ingin menyerah. Namun selama Allah masih memberi kekuatan untuk mengayuh, jangan pernah berhenti melangkah. Karena pertolongan-Nya selalu datang pada mereka yang terus berusaha dan berserah diri.

Alhamdulillāh. Masya Allah Tabārakallāh. Semoga ini menjadi awal untuk kembali menjaga amanah kesehatan yang Allah titipkan.

Penulis: AN

Tinggalkan komentar