
Subang, TintaGenz.com – Guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Yasodiki mengikuti kegiatan silaturahmi dan pembinaan yang diisi dengan mau’idhah hasanah oleh KH. Asep Asrofil Alam pada Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB tersebut menjadi momentum penguatan peran pendidik dalam membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam keimanan dan akhlak.
Dalam tausiyahnya, KH. Asep Asrofil Alam mengajak seluruh guru menjadikan Surat Fussilat ayat 33 sebagai landasan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Ayat tersebut menegaskan bahwa sebaik-baik perkataan adalah ajakan kepada Allah yang dibuktikan melalui amal saleh serta identitas keislaman yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, proses pembelajaran di sekolah harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dalam setiap mata pelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan spiritual peserta didik melalui setiap proses pembelajaran.
Selain itu, KH. Asep Asrofil Alam menekankan bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling efektif. Nasihat dan perintah akan sulit membekas apabila tidak diiringi dengan contoh nyata dari seorang guru. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk menjadi figur yang mencerminkan akhlak mulia, kedisiplinan, serta integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan pentingnya menampilkan identitas keislaman, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Seorang guru, menurutnya, merupakan representasi nilai-nilai Islam yang akan selalu menjadi perhatian dan teladan bagi peserta didik.
Melalui pembinaan tersebut, para guru diharapkan semakin memahami bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan semata. Pendidikan harus dihidupkan dengan nilai-nilai keimanan, akhlak, moral, dan spiritual sehingga mampu melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai agama.
Hikayah tentang Doa Guru
Untuk memperkuat pesan tentang pentingnya peran pendidik, KH. Asep Asrofil Alam juga menyampaikan sebuah hikayah mengenai Hasan al-Bashri dan seorang murid yang dikenal memiliki kemampuan belajar di bawah teman-temannya.
Suatu hari, murid tersebut mengaku merasa kesulitan memahami pelajaran dan hampir kehilangan semangat belajar. Mendengar keluhannya, Hasan al-Bashri memberikan sebuah sapu tangan seraya berpesan agar sapu tangan itu digunakan untuk mengusap wajah setiap kali ia merasa sedih, putus asa, atau mengalami kesulitan dalam belajar.
Murid itu pun menjalankan pesan gurunya dengan penuh keyakinan. Bertahun-tahun kemudian, ia tumbuh menjadi seorang ulama yang luas ilmunya dan mulia akhlaknya. Ketika berkesempatan menjenguk Hasan al-Bashri yang telah lanjut usia, ia mengungkapkan rasa syukur atas sapu tangan yang dahulu diberikan.
Hasan al-Bashri kemudian menjelaskan bahwa sapu tangan tersebut bukanlah benda yang memiliki kekuatan khusus. Sapu tangan itu hanyalah simbol agar muridnya selalu mengingat bahwa dirinya tidak pernah belajar sendirian. Di balik setiap proses yang dijalani, ada doa seorang guru yang terus dipanjatkan kepada Allah agar muridnya diberi kemudahan, keberhasilan, dan keberkahan ilmu.
Hikayah tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan seorang murid tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kesungguhan dalam belajar, ketekunan menjalani proses, serta doa dan bimbingan guru. Hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan akademik, melainkan ikatan ruhani yang dibangun melalui kasih sayang, keteladanan, perhatian, dan doa yang tulus.
Melalui kisah tersebut, KH. Asep Asrofil Alam mengajak seluruh pendidik untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing yang senantiasa mendoakan peserta didiknya. Sementara itu, para murid diingatkan agar tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan belajar, karena setiap orang memiliki proses dan waktu terbaik yang telah Allah tetapkan.
Kegiatan silaturahmi dan pembinaan ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Yasodiki dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan, sekaligus meneguhkan komitmen seluruh guru untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter.
Reporter: AN