TINTA Gelar Diskusi “Santri Vision 5.0”: Menyatukan Pikiran, Hati, dan Perbuatan di Era Digital

Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, komunitas Tadarus Intelektual Anak Muda (TINTA) menggelar forum diskusi reflektif bertajuk “Santri Vision 5.0: Menyatu antara Pikiran, Hati, dan Perbuatan.”

Acara yang berlangsung di Warung Kambing Syafanaya, Jalancagak ini menghadirkan suasana santai namun penuh kedalaman gagasan khas pesantren.

Narasumber:

  • Ajat Saputra, M.Pd – Alumni PP. Pagelaran 3 Subang
  • Badru Sohim, M.Pd – Alumni PP. Pagelaran 2 Sumedang
  • Shaleh Afif, M.Hum – Alumni PP. Bani Ma’sum Subang (Pembanding)
  • Dr. Afif Nurseha, M.Pd – Founder TINTA (Pemantik Diskusi)

Dalam pengantarnya, Dr. Afif Nurseha, M.Pd menjelaskan bahwa Santri Vision 5.0 merupakan konsep keseimbangan antara tiga hal utama: pikiran (nalar kritis), hati (spiritualitas), dan perbuatan (aksi nyata).

“Santri Vision 5.0 bukan sekadar wacana futuristik, melainkan refleksi moral. Santri sejati harus mampu berpikir jernih, berhati tulus, dan bertindak nyata di tengah tantangan zaman,” tegasnya.

Diskusi ini mengajak peserta untuk merenungkan kembali peran santri dalam dunia modern yang semakin kompleks. Di tengah kemajuan teknologi, santri diharapkan tidak kehilangan jati diri keilmuannya, melainkan menjadi pelaku aktif dalam perubahan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.

Dalam sesi diskusi, Ajat Saputra, M.Pd mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang berbunyi:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Kutipan ini menggambarkan esensi dari Santri Vision 5.0 bahwa kecerdasan intelektual harus selalu berpadu dengan kejernihan hati dan keikhlasan tindakan.
Badru Sohim, M.Pd menambahkan, “Santri hari ini bukan hanya penjaga kitab kuning, tapi juga penggerak inovasi. Mereka perlu hadir di dunia nyata, membawa nilai-nilai pesantren ke ruang publik.”

Sementara itu, Shaleh Afif, M.Hum sebagai pembanding menyoroti pentingnya menjaga tradisi berpikir kritis dengan tetap menjunjung adab dan keilmuan.

“Kritis bukan berarti menentang, tetapi mencari kebenaran yang lebih dalam. Itulah warisan pesantren yang tidak boleh hilang,” ujarnya.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta yang hadir terdiri dari mahasiswa, aktivis, dan alumni pesantren — turut berbagi pandangan tentang bagaimana nilai-nilai pesantren dapat diterapkan dalam konteks masyarakat modern.

Kegiatan ini menegaskan komitmen TINTA sebagai ruang tadarus intelektual anak muda: tempat berpikir jernih, berdialog dengan santai, dan berkomitmen untuk berbuat nyata.

Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama menyerukan semangat Hari Santri Nasional dengan pesan reflektif:

“Santri bukan hanya mengaji, tetapi juga mengabdi dan menginspirasi.”

Tinggalkan komentar