Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa menandai babak baru dalam arah kebijakan ekonomi Indonesia. Jika selama hampir satu dekade terakhir Sri Mulyani dikenal dengan gaya fiskal yang disiplin, berhati-hati, dan berorientasi pada stabilitas makroekonomi, maka Purbaya datang dengan semangat baru: mempercepat pertumbuhan dan menghadirkan kebijakan yang lebih inklusif bagi masyarakat luas. Transisi ini bukan sekadar pergantian tokoh, tetapi pergeseran paradigma dari kehati-hatian teknokratis menuju keberanian ekspansif yang berpihak pada rakyat.
Sri Mulyani membangun reputasi sebagai penjaga kredibilitas fiskal Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, rasio utang terhadap PDB berhasil ditekan di kisaran 38 persen, inflasi terjaga di bawah 3,5 persen, dan kepercayaan lembaga pemeringkat global terhadap ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia memprioritaskan efisiensi, reformasi perpajakan, dan tata kelola keuangan negara yang akuntabel. Kebijakan fiskalnya cenderung hati-hati: defisit dijaga agar tidak melebar, subsidi diarahkan secara selektif, dan fokus diarahkan pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta kesehatan. Model seperti ini memastikan stabilitas jangka panjang, namun di sisi lain dianggap kurang memberi dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi yang cepat.
Berbeda dengan itu, Purbaya Yudhi Sadewa, yang dilantik pada 8 September 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, datang dengan semangat baru. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional bisa menembus 6 hingga 8 persen dengan strategi yang lebih agresif dan berpihak pada rakyat kecil. Paket stimulus senilai Rp 30 triliun segera digulirkan pada Oktober 2025 untuk bantuan tunai kepada 35 juta keluarga dan program magang bagi 100 ribu lulusan muda. Pendekatan fiskal Purbaya lebih populis dan ekspansif, dengan fokus pada konsumsi rumah tangga, lapangan kerja, dan penguatan ekonomi domestik—terutama sektor ekonomi syariah dan digitalisasi UMKM.
Purbaya tampil lebih dekat dengan publik. Ia menempatkan “pertumbuhan cepat dan pemerataan sosial” sebagai misi utama, berbeda dengan Sri Mulyani yang sering berbicara dalam konteks teknokratis dan kehati-hatian fiskal. Purbaya meyakini bahwa momentum ekonomi pasca-pandemi harus diakselerasi melalui kebijakan yang “terasa” langsung oleh rakyat. Meskipun kebijakan ini membawa optimisme baru, sejumlah ekonom mengingatkan potensi risikonya: defisit bisa melebar, inflasi meningkat, dan kredibilitas fiskal perlu dijaga agar pasar tidak kehilangan kepercayaan.
Perbandingan kedua tokoh ini memperlihatkan dua wajah kebijakan fiskal Indonesia. Sri Mulyani adalah simbol stabilitas dan kredibilitas global, sedangkan Purbaya Yudhi Sadewa merepresentasikan semangat akselerasi dan pemerataan ekonomi rakyat. Dalam konteks makroekonomi, keduanya tidak saling meniadakan justru saling melengkapi. Sri Mulyani membangun fondasi kuat bagi keuangan negara, sementara Purbaya berupaya memacu mesin pertumbuhan agar manfaat pembangunan terasa lebih merata.
Kini, arah kebijakan fiskal Indonesia memasuki fase baru: bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, tetapi menyalakan mesin pertumbuhan dengan keberanian dan optimisme baru. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kehati-hatian, agar visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya menjadi jargon, tetapi kenyataan yang tumbuh dari kebijakan fiskal yang tangguh dan berpihak pada rakyat.
Analisis Perbandingan:
| Indikator | Sri Mulyani | Purbaya Yudhi Sadewa |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi rata-rata | 5,1% | Target 6–8% |
| Inflasi tahunan | 3–3,5% | 3,8–4,5% (proyeksi) |
| Rasio utang terhadap PDB | 38% | Potensi naik hingga 42% |
| Stimulus sosial langsung | Terbatas dan selektif | Besar dan luas |
| Respons terhadap kritik publik | Moderat, teknokratis | Responsif, populis |
| Keberpihakan sektor rakyat | Moderat | Tinggi |
Reporter: AN
Editor: Redaksi TintaGenz.com
Sumber data:
- Kementerian Keuangan RI (2025)
- Reuters (17 Oktober 2025)
- Kontan.co.id (9 September 2025)
- DetikFinance (8 September 2025)
- Bisnis Indonesia (10 Oktober 2025)
- Jakarta Globe (18 Oktober 2025)
- Voi.id dan Kompas.com (September–Oktober 2025)